jump to navigation

Cara Membedakan Puyuh Jantan dan Puyuh Betina 26 Maret 2012

Posted by Peluang Usaha Budidaya in Panduan.
trackback

Di Indonesia, kini perkembangan budidaya puyuh sudah semakin mantap, baik sebagai usaha komersial maupun usaha sampingan. Semakin meluas dan meningkatnya perkembangan peternakan puyuh antara lain disebabkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan protein hewani, serta diterapkannya teknologi moderen tentang pemeliharaan unggas.

Pada usaha budidaya puyuh untuk produksi telur keberadaan puyuh jantan harus diminimalkan, karena dapat mengganggu ketenangan puyuh betina, telur-telur yang dihasilkan betina juga akan cepat rusak dan membusuk karena adanya embrio. Di samping itu juga menambah beban karena memboroskan ransum. Tetapi dalam kondisi tertentu, puyuh jantan juga sangat diperlukan, misalnya untuk menghasilkan telur yang bisa ditetaskan. Hanya saja keperluannya relatif sedikit. Cukup dua sampai tiga ekor untuk sepuluh betina.

Cara menentukan jenis kelamin puyuh tidaklah sulit. Cara yang paling mudah adalah dengan melihat warna bulu. Hal ini bisa ditentukan setelah anak puyuh berumur 3 minggu, karena pada usia inilah anak-anak puyuh bulunya sudah tumbuh sempurna, terutama pada Cortunix cortunix japonica (puyuh asal Jepang). Perbedaan jantan dan betina pada Cortunix cortunix japonica adalah dengan melihat bulu dada. Pada burung puyuh jantan warna bulu penutup bagian dada adalah merah coklat (sawo matang), tanpa terdapat garis atau bercak-bercak hitam. Sebaliknya pada burung betina bulu dadanya merah coklat dan terdapat garis atau bercak-bercak hitam.

Puyuh juga dapat dibedakan jenis kelaminnya setelah berumur lebih dari 1,5 bulan, yakni dengan mengenal suaranya. Puyuh jantan akan berkokok nyaring seperti ayam hutan, sedang betina tidak. Ciri lainnya adalah bobot badan. Umumnya puyuh betina memiliki bobot badan yang lebih besar dibandingkan puyuh jantan. Puyuh betina dewasa biasanya memiliki bobot antara 110-160 gram dan puyuh jantan dewasa berbobot antara 100-140 gram. Begitu pula bentuk pantatnya, puyuh jantan pantatnya bulat dan besar sedang si betina lebih kecil.

 Metode kloaka

Penentuan kelamin anak puyuh dengan melihat warna bulu memang paling mudah dan praktis. Tetapi susahnya harus menunggu terlebih dulu sampai puyuh berumur 3 minggu dan tumbuh semua bulunya. Bagi pengusaha ternak komersial, praktek serupa ini jelas tidak ekonomis dan mempertipis keuntungan. Hal ini pasti tidak dikehendaki. Itulah sebabnya mengapa metode kloaka lebih disukai para pengusaha untuk menentukan jantan-betinanya.

Dengan menggunakan metode kloaka anak puyuh sudah bisa dipilih dan ditentukan pemeliharaannya lebih lanjut, sehari setelah keluar dari penetasan. Saat itu anak puyuh bobotnya baru mencapai 8 gram dan lubang duburnya baru selebar 3 milimeter. Penentuan jantan-betina adalah dengan meneliti secara seksama bagian lubang dubur atau kloakanya. Pemeriksaan tersebut sebenarnya sangat sederhana dan mudah.

Caranya, dengan memegang anak puyuh memakai tangan kiri, dengan punggung menghadap si pemeriksa lalu kaki mengarah keluar serta kepala tunduk kebawah. Selanjutnya pantat dan punggung dipegang dengan telunjuk dan ibu jari, kaki diletakkan antara jari tengah dan jari manis, serta leher diletakkan antara jari manis dan kelingking.

Dengan demikian posisi anak puyuh dalam keadaan menungging. Pada posisi seperti inilah penentuan jenis kelamin bisa kita lakukan.

Pertama, urut dahulu perut anak puyuh ke arah dubur sampai keluar kotorannya. Kotoran dibersihkan dengan kain atau kapas, selanjutnya dubur dibuka dan diraba-raba.

Perabaan atau pemeriksaan dilakukan dengan jari sampai ditemukan tonjolan atau lipatan pada dinding kloaka. Kalau tidak ada tonjolan, berati itu anak puyuh betina. Tapi kalau terasa ada tonjolan, anak puyuh tersebut berjenis kelamin jantan. Tonjolan kecil tersebut sebenarnya juga dapat kita saksikan bentuknya menggunakan kaca pembesar dan penerangan lampu 75 watt. Bentuk tonjolan pada puyuh berkelamin jantan mirip seperti bentuk jantung. Tetapi sayangnya tak semua orang bisa melakukan penentuan kelamin dengan metode ini, karena untuk menjadi ahli dan terampil diperlukan latihan berulang kali.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: